SISTEMATIKA PERENCANAAN DALAM PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN

Heinich dkk. (1996) mengemukakan secara umum bahwa: Langkah pertama dalam perencanaan adalah mengidentifikasi peserta belajar. Peserta belajar tersebut mungkin siswa, pelatih, anggota suatu organisasi, para pemuda, dan sebagainya. Kita mesti tahu dengan murid-murid kita untuk memilih media yang terbaik guna mencapai tujuan pembelajaran. Peserta belajar tersebut dapat dianalisis dari segi: karakteristik umum, kompetensi spesifik dan pola belajar.

 

Karaktistik Umum

Menganalisis karakteristik peserta belajar ini sangat membantu dalam pemilihan metode dan media pembelajaran. Sebagai contoh siswa dengan kemampuan membaca standar mungkin lebih efektif dengan media non-cetak. Jika siswa merasa tidak tertarik terhadap suatu topik pelajaran, ini merupakan suatu permasalahan, maka sebaiknya menggunakan stimulus dengan pendekatan pembelajaran sebagai ontohnya drama video tape atau permainan simulasi.

 

Spesifik Kompetensi

Jika kita mulai merencanakan suatu pelajaran, asumsi awalnya adalah siswa-siswa tersebut mempunyai pengetahuan atau keterampilan prasarat yang masih kurang  dalam mengikuti pelajaran. Pengetahuan dan ketrampilan dasar/prasarat siswa diperlukan untuk memahami dan mempelajari  pelajaran yang akan diajarkan. Selanjutnya dibutuhkan kecakapan seorang guru dalam mengantisipasi beberapa siswa dalam kelas yang memerlukan remidial terhadap materi-materi prasarat sebelum mereka benar-benar siap untuk memulai pelajaran.

 

Pola Belajar

Pola belajar tergolong dalam kelompok psikologi yang mencerminkan kesadaran individu, hubungan sosial, tangapan emosional terhadap lingkungan belajar. Ada tujuh aspek intelegensi yang berhubungan dengan pola belajar:

  1. verbal/ linguistik (bahasa)
  2. logika/ matematika (kuantitatif)
  3. visual
  4. musikal
  5. kinestatik (penari/ atletik)
  6. kepribadian (kemampuan memahami orang lain)
  7. kepribadian (kemampuan memahami diri sendiri)

 

sedangkan pola belajar yang didiskusikan disini dapat dikategorikan:

  • konsep awal dan kemampuan
  • proses informasi
  • faktor motivasi
  • faktor psikologi

 

Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan sebagai kemampaun khusus, tujuan mungkin dijabarkan dari silabus, terdapat di dalam buku teks, diambil dari panduan kurikulum, dikembangkan oleh instruktur. Tujuan-tujuan ini ditetapkan dalam segi apa yang akan ditimbulkan sebagai akibat pencapaian tujuan.

Dalam menetapkan tujuan, terdapat empat tahap yang disingkat dengan ABCD:

–          Audience: sistematika  pengajaran fokus pada apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan guru.

–          Behavior: tujuan menjabarkan kemampuan yang diharapkan setelah pengajaran.

–          Condition: tujuan yang mencakup kondisi atau tingkah laku setelah diobservasi.

–          Degree: tujuan akhir menyatakan standar atau kriteria kemampuan yang akan dinilai.

 

Classifikasi objectives

Classifikasi objectives lebih dari pada kegiatan latihan akademik dalam psikologi pendidikan, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.

–          kognitif : berhubungan dengan pengetahuan dan informasi.

–          afektif:berhubungan dengan sikap, apresiasi, dan nilai.

–          psikomotor:berhubungan dengan keterampilan.

 

Pemilihan metode, media dan bahan ajar

Sistematika rencana pembelajaran termasuk tergantung dari: metode, media dan bahan ajar. Proses rencana pembelajaran ini mencakup:

–          tergantung dari pemilihan metode.

–          pemilihan sebuah media yang cocok untuk penyampaian materi dengan metode yang ditetapkan.

–          Pemihan, modifikasi atau mendesain bahan ajar khusus dengan media yang ditetapkan.

 

Setelah mengidentifikasi peserta belajar dan tujuan-tujuan, kita telah memiliki poin-poin awal (pengetahuan prasarat peserta belajar, ketrampilan-ketrampilan, dan sikap-sikap) dan poin-poin akhir (tujuan-tujuan) dari pembelajaran. Tugas kita sekarang adalah menghubungan antara dua poin ini dengan pemilihan metode pendekatan dan media, kemudian memutuskan bahan ajar untuk mengimpelemtasikan pilihan ini. Ada tiga pilihan:

–          memilih bahan ajar yang mungkin

–          memodifikasi bahan ajar yang ada

–          mendesain baru bahan ajar

 

Kriteria pemilihan bahan ajar:

–          apakah sesuai kurikulum

–          apakah akurat dan terbaru

–          apakah bentuk dan bahannya jelas, dll.

 

Tetapi jika mengembangkan  bahan ajar baru, ada bagian yang mendasar yang harus diperhatikan, yaitu:

–          objectives

–          Audience

–          Technical expertise

–          Equipment

–          Facilities

–          Time

 

Contoh dalam matematika sekolah menengah (Analyze Learners)

–          General charakteristics : siswa kelas VII, usia siswa antara 12 dan 14 th, mereka berasal dari lingkungan sosial ekonomi yang berbeda, proses pembelajaran cenderung berorientasi pada buku teks dan tertulis.

–          Entry competencies:

  • memilih, meletakkan, dan menggunakan pendekatan kajian literatur ketika persiapan tugas penelitian, menggunakan pusat media, yaitu perpustakaan sekolah.
  • Meletakkan dan mengidentifikasi diagram batang, garis dan lingkaran ketika latihan dan media bentuk lain.
  • Membaca dan menginterpretasi semua informaasi statistik atau bilangan jika diberikan diagram batang, garis atau lingkaran.
  • Membuat grafik jika diberikan sekumpulan data, pensil warna, busur, mistar dan kertas grafik. Menyatakan dan menginterpretasi, contoh persentase, mean, median dan modus tanpa bantuan atau referensi.

–          Learning style: siswa tidak suka penilaian monoton pada penilaian buku teks. Penilaian seperti ini biasanya terpusat pada masalah perhitungan tertulis, yang berakibat siswa cepat bosan dan kelelahan. Tampak bahwa aktivitas menggunakan manipulasi (misanya laporan, proposal penelitian)

 

Contoh dalam matematika sekolah menengah (state objectives)

Tujuan untuk pelajaran ini adalah sebagai berikut:

–          Diberikan diagram, siswa dapat menjelaskan semua informasi statistik atau angka yang tergambar dari diagram yang benar.

–          Diberikan sekumpulan data, siswa dapat membuat atau menghasilkan printout diagram menggunakan macintosh dan cricetgraph.

–          Bekerja dikelompok kecil, siswa dapat berdiskusi dan menyetujui topik untuk presentasi.

 

 

MENGANALISA PESERTA BELAJAR

 

                                    Salah satu aspek yang sulit dalam mengajar adalah bagaimana membantu murid yang berprestasi rendah dan susah didekati. Jere Brophy dalam John W. Santrock (2008) mendeskripsikan strategi untuk meningkatkan motivasi dua jenis murid yang susah didekati dan berprestasi rendah, yaitu: (1) murid yang tidak semangat dan kurang percaya diri dan kurang bermotivasi untuk belajar, dan (2) murid yang tidak tertarik atau terasing.

 

Murid yang Tidak Semangat

                                    Murid jenis ini mencakup: (1) murid berprestasi rendah dengan kemampuan rendah yang kesulitan untuk mengikuti pelajaran dan punya ekspektasi prestasi yang rendah; (2) murid dengan sindrom kegagalan; dan (3) murid yang terobsesi untuk melindungi harga dirinya dengan menghindari kegagalan.

 

(1)        Murid Berprestasi Rendah dengan Ekspektasi Kesuksesan yang rendah

                                    Murid jenis ini perlu terus menerus diyakinkan bahwa mereka bisa mencapai tujuan dan menghadapi tantangan atau permasalahan belajar mereka dan guru perlu membantu mereka untuk mencapai sukses. Mereka perlu diingatkan bahwa mereka akan mencapai kemajuan sepanjang mereka melakukan upaya nyata. Mereka mungkin membutuhkan intruksi tersendiri atau aktivitas khusus untuk meningkatkan level keahlian mereka. Suruh murid ini melakukan kerja keras dan membuat kemajuan, meskipun mungkin mereka tidak punya kemampuan untuk melakukannya terhadap level kelas secara keseluruhan.

 

(2)        Murid dengan Sindrom Kegagalan

                                    Sindrom kegagalan adalah murid memiliki ekspektasi rendah untuk meraih kesuksesan dan menyerah saat menghadapi kesulitan awal (John W. Santrock, 2008). Murid dengan sindrom kegagalan berbeda dengan murid berprestasi rendah yang selalu gagal meski sudah berusaha keras. Adapun murid dengan sindrom kegagalan tidak mau berusaha keras, sering kali menjalankan tugas dengan setengah hati dan cepat menyerah saat pertama kali menghadapi kesulitan.

Sejumlah strategi dapat dipakai untuk meningkatkan motivasi murid yang mengalami sindrom kegagalan. Yang amat bermanfaat adalah metode pelatihan ulang (retraining) kognitif, seperti retraining kecakapan, retrainig atribusi, dan strategi training yang dideskripsikan. Selengkapnya seperti pada tabel berikut:

Metode Training

Penekanan Utama

Tujuan Utama

Training Kecakapan Meningkatkan persepsi kecakapan diri murid Mengajari murid menentukan dan berjuang mencapai tujuan yang spesifik, menantang dan realistis. Memonitor kemajuan murid dan memberi dukungan dengan mengatakan sesuatu seperti “Saya tahu kamu bisa melakukannya.” Menjadi guru yang cakap dan punya rasa percaya diri terhadap kemampuan kita. Memandang murid sebagai tantangan, bukan pecundang.
Retraining Atribusi dan Orientasi Prestasi Mengubah atribusi dan orientasi prestasi murid Mengajari murid untuk menghubungkan kegagalan dengan factor-faktor yang dapat diubah, seperti pengetahuan atau usaha yang kurang memadai dan strategi yang tak efektif. Membantu murid untuk mengembangkan orientasi kinerja belaka, dengan cara membantu mereka untuk focus pada proses pencapaian prestasi (pembelajaran tugas).
Training Strategi Meningkatkan strategi dan keahlian tugas dan bidang pelajaran Membantu murid menguasai dan mengatur sendiri penggunaan pembelajaran yang efektif dan strategi pemecahan problem. Ajari murid apa yang mesti dilakukan, bagaimana cara melakukannya, dan kapan dan mengapa itu harus dilakukan.

 

(3)     Murid yang Termotivasi untuk Melindungi Harga Dirinya dengan Menghindari Kegagalan

                                    Beberapa murid ingin melindungi harga dirinya dengan menghindari kegagalan sehingga mereka tidak mau mengejar tujuan pembelajaran dan menjalankan strategi pembelajaran yang tidak efektif (Urdan & Midgely dalam John W. Santrock, 2008). Berikut ini beberapa strategi murid-murid untuk melindungi harga diri  dan menghindari kegagalan mereka, yaitu:

  • Nonperformance. Strategi paling jelas untuk menghindari kegagalan adalah tidak mau mencoba. Taktik tidak mau mencoba ini antara lain: tanpak ingin menjawab pertanyaan guru tetapi berharap guru memanggil murid lain; menunduk di bangku agar tidak dilihat oleh guru, dan menghindari kontak mata; membolos dari sekolah.
  • Berpura-pura. Agar tidak dikritik karena tidak mau mencoba, beberapa murid tanpak berprestasi tetapi dia melakukannya demi menghindari hukuman, bukan untuk sukses. Tingkah pura-pura yang lazim misalnya pura-pura bertanya meskipun mereka sudah tahu jawabannya, menampakkan ekspresi pasif dan rasa ingin tahu, dan menghindari perhatian selama diskusi kelas.
  • Menunda-nunda. Murid yang menunda belajar sampai menjelang ujian dapat menghubungkan kegagalan mereka pada manajemen waktu yang buruk, dan karenanya orang lain tidak memperhatikan kemungkinan bahwa dia sesungguhnya memang tidak pandai atau kompeten.
  • Menentukan tujuan yang tidak terjangkau. Dengan menetapkan tujuan setinggi-tingginya sehingga kesuksesannya menjadi mustahil, seorang murid dapat terhindar dari kesan bahwa mereka tidak kompeten, karena tampaknya semua murid tidak bisa mencapai tujuan yang amat tinggi ini.
  • “Kaki kayu akademik.” Dalam cara ini, murid mengakui kelemahan personal kecil agar kelemahannya yang lebih besar tidak diketahui.

Selanjutnya Martin Covington, dkk dalam John W. Santrock (2008) mengusulkan beberapa strategi untuk membantu murid mengurangi kesibukannya melindungi harga dirinya dan menghindari kegagalan:

  • Beri murid ini tugas yang menarik dan memicu rasa ingin tahu mereka. Tugas itu harus menantang tetapi tidak melampaui kemampuan mereka.
  • Buat sistem  imbalan/hadiah sehingga semua murid-bukan hanya murid yang cerdas dapat memperoleh hadiah itu jika mereka mau berusaha keras.
  • Bantu murid menentukan tujuan yang menantang namun realistis, dan beri mereka dukungan akademik dan emosional dalam rangka mencapai tujuan itu.
  • Perkuat asosiasi antara usaha dan harga diri. Usahakan murid untuk berbangga atas usaha yang mereka lakukan.
  • Dorong murid untuk memegang keyakinan positif terhadap kemampuan mereka sendiri.
  • Tingkatkan hubungan guru-murid secara profesional.

 

Murid yang Tidak Tertarik atau Teralienasi

                                    Brophy dalam John W. Santrock (2008) percaya bahwa problem motivasi paling sulit adalah murid yang apatis, tidak tertarik belajar, atau teralienasi atau menjauhkan diri dari pembelajaran sekolah.

Selanjutnya Brophy menawarkan beberapa cara untuk mendekati murid yang tidak tertarik atau teralienasi, yaitu:

  • Kembangkan hubungan positif dengan murid. Jika murid yang tidak tertarik belajar itu tidak menyukai kita, maka akan sulit untuk mengajaknya mencapai tujuan pembelajaran. Tunjukkan kesabaran, tetapi terus Bantu murid dan dorong untuk terus maju walaupun kadang ada kemunduran atau penolakan.
  • Buat suasana di sekolah menjadi menarik. Agar sekolah menjadi menarik bagi murid jenis ini, cari tahu apa yang menarik bagi murid tersebut dan jika dimungkinkan masukkan minat murid itu dalam tugas untuk mereka.
  • Ajari mereka untuk membuat belajar menjadi menyenagkan. Bantu mereka memahami bahwa mereka sendirilah yang menyebabkan masalah, dan cari jalan untuk membimbing mereka agar bangga dengan hasil kerja keras mereka sendiri.
  • Pertimbangkan penggunaan mentor. Pikirkan tentang kemungkinan bantuan mentor dari komunitas atau dari murid yang lebih tua yang kita percaya akan dihormati oleh murid yang tak tertarik atau teralienasi itu.

 

PEMILIHAN METODE, MEDIA, DAN MATERI DALAM PEMBELAJARAN

Dalam bukunya Instructional  Media dan Technology for Learning, Heinich dkk. (1996) dalam Tim MKPBM menyatakan bahwa keseluruhan sejarah, media dan teknologi telah mempengaruhi pendidikan. Pada masa kini misalnya computer telah memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap seting pelajaran. Alat-alat yang demikian menawarkan kemungkinan untuk menjadi lebih baik dalam proses belajar mengajar.

Peranan guru dan siswa jelas menjadi berubah karena pengaruh media dan teknologi di dalam kelas. Kini guru dan buku bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar atau sumber ilmu pengetahuan. Selanjutnya Heinich dkk. Menyatakan bahwa pembelajaran merupakan susunan dari informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi belajar. Dengan menggunakan lingkungan ini dimaksudkan bukan hanya di mana pembelajaran berlangsung, melainkan juga metode, media, peralatan yang diperlukan untuk memberikan informasi dan membimbing siswa belajar. Pemilihan strategi pembelajaran menentukan lingkungan (metode, media, peralatan, dan fasilitas) serta cara informasi itu dirakit dan digunakan. Adanya kerjasama guru-guru dan ahli media, bagi guru dapat mengintegrasikan media ke dalam proses pembelajarannya sehingga dapat memperbesar perolehannya yang berdampak pada peningkatan prestasi siswa.

Belajar merupakan pengembangan pengetahuan baru, ketrampilan, dan sikap ketika seorang individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Bagaimana kita mendesain dan menyusun perencanaan pembelajaran menjadi suatu perhatian utama terhadap apa yang kita pelajari, melainkan juga bagaimana siswa menggunakan apa yang mereka pelajari.

 

a.         Media dalam Pembelajaran Matematika

Pengertian Media

AECT : media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi

Gagne : media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar

Briggs : media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar

NEA : media adalah bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya

MEDIA adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi

Kegunaan Media

  • Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
  • Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera
  • Mengatasi sikap pasif siswa menjadi lebih bergairah
  • Mengkondisikan munculnya persamaan persepsi dan pengalaman

Pemilihan Media

Ciri Utama Media Yakni Suara, Visual, Gerak

KLASIFIKASI MEDIA
Audio visual gerak / diam
Visual gerak / diam
Audio Cetak

Pertimbangan Pemilihan Media

  • Tujuan yang ingin dicapai
  • Karakteristik siswa/sasaran
  • Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak)
  • Keadaan lingkungan setempat
  • Luasnya jangkauan yang ingin dilayani

Media (merupakan jamak dari kata medium) adalah suatu saluran untuk komunikasi. Istilah ini menunjuk kepada sesuatu yang membawa informasi dari pengirim informasi ke penerima informasi. Masuk di dalamnya antara lain: film, televisi, diagram, materi tercetak, komputer, dan instruktur.

Beberapa media yang dikenal dalam pembelajaran matematika antara lain:

(1) Media non projected antara lain: fotografi, diagram, sajian (display), dan model-model; (2) Media projected antara lain: slide, filmstrip, transparansi, dan komputer proyektor; (3) Media dengar sepertinya halnya kaset, compact disk; (4) Media gerak seperti video dan film; (5) komputer, multimedia; serta (6) media yang digunakan untuk belajar jarak jauh seperti halnya radio, televisi, dan internet (komputer).

Pada dasarnya media dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu media sebagai pembawa informasi (ilmu pengetahuan), dan media yang sekaligus merupakan alat untuk menanamkan konsep seperti halnya alat-alat peraga pendidikan matematika.

 

b.         Metode dalam Pembelajaran Matematika

Secara tradisional metode pembelajaran telah dijelaskan sebagai bentuk presentasi seperti kuliah (ceramah) dan diskusi. Di sini dibedakan antara metode pembelajaran dan media pembelajaran. Metode adalah prosedur pembelajaran yang dipilih untuk membantu para siswa mencapai tujuan atau untuk menginternalisasikan isi atau pesan. Sedangkan media pembelajaran adalah pembawa-pembawa informasi dari pemberi pesan ke penerima pesan.

Sementara itu Ruseffendi (2006) mengatakan bahwa perlu adanya bermacam-macam metode mengajar dan aplikasinya dalam pengajaran matematika ialah agar guru memiliki pengetahuan yang luas tentang metode-metode dan memiliki ketrampilan untuk menerapkannya, khususnya dalam pengajaran matematika. Mengetahui keunggulan dan kelemahan tiap-tiap metode mengajar sangat penting agar kita dapat menerapkan metode itu dengan tepat, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal.

Beberapa metode pembelajaran dalam matematika, antara lain: presentasi, ekspositori, tanya jawab, demonstrasi, diskusi (seminar, panel, dll), drill dan latihan, tutorial, cooperative learning group, permainan, penemuan, dan problem solving.

Dalam kenyataannya metode-metode itu tidak merupakan metode murni, maksudnya dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan metode lain, tetapi saling melengkapi. Seperti pada metode ekspositori ada penemuannya, pada metode penemuan ada ceramahnya, dsb.

 

Berikut beberapa contoh metode pembelajaran dalam matematika, sbb:

1.         Cooperative Learning Group

Banyak hasil penelitian yang mengklaim bahwa para siswa bisa saling belajar dari yang lain ketika mereka bekerja dalam tim dalam mengerjakan suatu proyek. Pembelajaran dengan Cooperative Learning Group sebagai reaksi dari belajar kompetitif mempunyai alas an bahwa siswa perlu mengembangkan ketrampilan dalam belajar dan bekerja bersama, karena pada akhirnya di tempat kerja nanti mereka perlu mengembangkan teamwork. Para ahli menyayangkan bahwa pada umumnya para siswa tidak mempunyai pengalaman bagaimana melakukan kerja kelompok. Oleh karena itulah kerja kelompok menjadi semakin penting. Siswa dapat belajar secara bersama-sama bukan hanya dengan mendiskusikan teks dan menyaksikan media, melainkan juga dengan memproduksi media. Misalkan mendesain sebuah video atau slide dalam pembelajaran matematika. Dalam hal ini guru berperan sebagai partner dalam belajar.  

Contoh penggunaan Cooperative Learning Group dalam Matematika

Topik Masalah                           :           Pengenalan konsep gradient garis

Tingkat                                                  :           SMA Kelas X

Tujuan                        :   1.  Melihat pola perubahan kemiringan garis akibat perubahan koefisien x pada fungsi linier.

                                     2.  Berlatih menentukan pengaruh beberapa beberapa perubahan koefisien x terhadap kemiringan garisnya.

                                     3.  Berlatih membuat generalisasi tentang pengaruh perubahan koefisien x terhadap kemiringan garisnya.

Ukuran Kelompok       :   4 orang siswa

Bahan-bahan yang diperlukan untuk setiap kelompok:

               1)   4 buah fotokopi lembar masalah

               2)   5 lembar kertas berpetak (mm blok) untuk membuat grafik

Catatan-catatan guru:

  • Menunjuk seorang pembaca, seorang penggambar untuk setiap kelompok
  • Menunjuk seorang juru bicara setiap kelompok jika dipandang setaip kelompok perlu mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas.

 

2.         Problem Solving

Dengan melalui problem solving para siswa menggunakan ketrampilan yang dimiliki sebelumnya untuk mencapai pemecahan tantangan suatu masalah.

Problem solving atau pemecahan masalah menurut Gagne dalam Ruseffendi adalah tipe belajar yang tingkatnya paling tinggi dan kompleks dibandingkan dengan tipe belajar lainnya.

Masalah dalam matematika adalah sesuatu persoalan yang ia sendiri mampu menyelesaikannya tanpa menggunakan cara atau algoritma yang rutin.

Perhatikan contoh persoalan berikut:

1)       Hitunglah 25 + 69.

2)       Hitunglah 325 .

3)       Selesaikan berdasarkan pola:

3    *           2          =          4

4    *           4          =          7

7    *           0          =          6

1    *           0          =          ?

5    *           6          =          ?

4)       Berapakah banyaknya daerah yang paling banyak dapat dibuat, pada sebuah daerah lingkaran yang terjadi karena ditariknya 10 buah tali busur?

5)       Bila panjang sisi siku-siku sebuah segitiga siku-siku 10 cm dan 9 cm, berapa cm-kah panjang sisi miringnya?

Manakah di antara persoalan di atas yang merupakan masalah bagi anda?

Nomor 1), 2), dan 5) barangkali tidak merupakan masalah bagi anda (untuk anak SMA ke atas), sedangkan soal nomor 3) dan 4) nampaknya ya.

Pada soal nomor 3), meskipun soalnya sederhana namun mungkin merupakan masalah bagi anda. Untuk menyelesaikan soal itu kita harus menelaahnya terlebih dahulu, kemudian kita periksa kebenaran dari aturan yang ditemukan itu.

Pada soal nomor 4), nampaknya merupakan masalah bagi anda.

 

Jadi suatu persoalan itu merupakan masalah bagi seseorang, bila:

1.   Persoalan itu tidak dikenalnya, maksudnya siswa belum memiliki prosedur atau algoritma tertentu untuk menyelesaikannya.

2.   Siswa harus mampu menyelesaikannya, baik kesiapan mentalnya maupun pengetahuan siapnya, terlepas daripada apakah ia sampai atau tidak kepada jawabannya.

3.   Sesuatu itu merupakan pemecahan masalah baginya, bila ia ada niat menyelesaikannya.

 

c.   Materi dalam Pembelajaran

 

Pengertian Materi Pembelajaran

Keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan sangat tergantung pada keberhasilan guru merancang materi pembelajaran.  Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran.

Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator .

Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran tersebut.

Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna, dituntut memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur pengembangan materi serta mengukur efektivitas persiapan tersebut.

 

Jenis-Jenis Materi Pembelajaran

Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut. 

  1. 1.       Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya. Contoh dalam mata pelajaran Matematika: ∩, Є, {  }, =, <, ≥, ∑, 5, ≡, lingkaran, segitiga, dsb.
  2. 2.       Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi  dan sebagainya. Contoh, dalam mata pelajaran Matematika: Konsep tentang himpunan, konsep tentang persamaan, konsep tentang fungsi, konsep tentang irisan kerucut, dsb.
  3. 3.       Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh, dalam mata pelajaran Matematika: Jika dua sisi dan sudut apitnya sama maka dua segitiga itu kongruen, pada segitiga siku-siku luas persegi pada sisi miring (hypotenusa) sama dengan luas persegi pada kedua sisi siku-siku, dsb.
  4. 4.       Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh, dalam mata pelajaran Matematika: langkah-langkah dalam menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel dengan eliminasi, trik atau cara berpikir dalam menyelesaikan hitung integral, dsb.
  5. 5.       Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya  nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Contoh, dalam mata pelajaran Matematika: pengembangan pembelajaran dengan pendekatan contectual atau RME.

 

Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi

Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).

  1. Relevansi artinya kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. 
  2. Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.
  3. Adequacy artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).

 

Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

  1. potensi peserta didik;
  2. relevansi dengan karakteristik daerah;
  3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
  4. kebermanfaatan bagi peserta didik;
  5. struktur keilmuan;
  6. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  7. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  8. alokasi waktu.

 

SIMPULAN

                        Dari uraian mengenai Sistematika Perencanaan dalam Pembelajaran di atas dapatlah kami disimpulkan bahwa sesunggunya terdapat banyak sekali strategi, model-model pembelajaran yang dapat ditawarkan atau dipilih oleh seorang guru yang bagus-bagus adanya untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah / kelas.

                        Apa yang penyaji atau penyusun tampilkan ini hanyalah segelintir uraian yang dapat didiskusikan sehingga seyogiyanya dapat memperluas wawasan kita bersama. Terima kasih.

 

Referensi:

Heinich, Robert. dkk. 1996. Instructional Media and Technologies for Learning. New Jersey. By. Prentice-Hall.Inc.

 

Ruseffendi. 2006. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA-UPI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: